Sepenggal Kisah Yang Terlunta

March 31st, 2005 by nanataryana

Catatan Kecil

A

ngin berarak-arak meniupkan sangkakala kebahagiaan menyambut kelahiran putra mahkota kerajaan dunia.

   Nyala api lilin berdiri  di tengah-tengah kue tar, dihiasi angka-angka keberuntungan. Kemudian nyanyian-nyanyian merdu terdengar mengisi ruangan penuh warna.

“Happy birthday to you”, berulangkali di tembangkan sambil tepuk tangan mengiringinya. Senyuman kebahagiaan tersirat di wajah-wajah  mereka.

Pesta pun terlihat meriah dipadu ramuan-ramuan kemewahaan memperingati hari sakral seorang insani. Begitu istimewanya hari itu sehingga selalu dirayakan setiap tahunnya.

Genderang kegembiraan  mulai di tabuh sampai terdengar ke seluruh pelosok alam. Semua bersorak sorai. Jabatan tangan mengucapkan selamat kerap menggenggam.

Hanya luapan-luapan kesenangan  berpagut, untuk  hari ini saja, esok atau untuk selamanya. 

Ada makna di balik hari ulang tahun yang kita rayakan, sebuah renungan bahwa hari ulang tahun ini adalah titik awal untuk memasuki dunia baru, sebuah kedewasaan dan kemandirian.  Sebagai batu pijakan untuk terus memperbaiki diri agar hari esok lebih baik dan cahaya kemenangan kita peroleh.

Sebuah renungan pula bahwa dengan bertambahnya usia  secara matematis adalah berkurangnya usia untuk mengenyam kehidupan di alam dunia.

Alangkah sedihnya jika kita kaji secara mendalam, ternyata ulang tahun adalah hari dimana kesempatan-kesempatan kita untuk  terus hidup di bumi  dan menikmati keindahanya semakin sedikit.

Akhirnya, penulis hanya bisa mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” untuk sahabatku tercinta.  Semoga kesuksesan hidup akan diraihnya - sebuah kedamaian.

Semoga suguhan tulisan ini menjadikan sebuah kado spesial  di hari ulang tahunmu  dan dapat menggali makna yang tersirat di dalamnya.

Sebuah introspeksi untuk mengisi buku raport dunia ke arah yang lebih baik, untuk hari esok dan seterusnya.

Sebait kalimat akhir: ”hidup adalah sebuah perjalanan di tengah lautan, dimana kita berada di atas sampannya. Kita dan perahu kita akan selamat dari goncangan ombak atau hempasan badai manakala kita mampu mengendalikannya untuk  menggapai sebuah daratan di ujung sana yang tertata suatu kerajaan megah”.

Tentunya jalan untuk menuju kerajaan itu terjal dan berliku, maka perjuangan pun tak pelak lagi. Apakah kita  akan sampai  di daratan bertabur permata  atau kita akan tenggelam di dasar samudra, lalu dimakan oleh ikan-ikan hiu kelaparan?.

Sebuah renungan !

                                                                  Jakarta,  Hari Jum’at

                                                                       19 Maret 2004,

                                                                          Sahabatmu,

                                               NANA TARYANA

Ulang Tahun Sahabatku

H

ari ini adalah hari ulang tahun sahabatku, wahai dunia. Katakan pada pelosok alam dengan segala kekuatanmu.

Menarilah dengan bidadari-bidadari yang kau jemput dari taman surga. Bersenanglah dengan setengguk kenikmatan di depan matamu. Lalu nyanyikanlah puisi-puisi cinta tentang dua sejoli yang dilanda asmara.

Rayakanlah dengan pesta-pesta yang meriah, undanglah dan manjakan orang-orang penghuni alam mayapada.

Hiasi sudut-sudut rumah, di persimpangan jalan  dengan warna-warna keagungan.

Nyalakan lentera-lentera sampai kegelapan merayap. 

Taburi tempat tidur mereka dengan wangi-wangi kesturi, lalu rentangkan permadani-permadani. Hiasi  baju-baju mereka dengan pakaian mewah bersulamkan sutra-sutra.

Tembangkanlah pupuh-pupuh kinanti sang pujangga diiringi gamelan-gamelan tua. Tidak perlu tujuh hari tujuh malam atau tiga hari tiga malam, cukup sehari saja.

Mampukkah wahai kekuatan-kekuatan ?

Tidak ada kesedihan,  tidak ada pertikaian, tidak ada penderitaan, tidak ada sedikitpun kesengsaraan di wajah-wajah mereka. Tidak ada lagi wajah-wajah pucat karena kehausan atau tubuh-tubuh lunglai kelaparan.

Suguhi dengan kemewahan-kemewahan, sehari saja wahai kekuatan-kekuatan, hingga yang ada hanya kesenangan dan kegembiraan menyambut kelahiran sahabatku.

Bisakah engkau wahai kekuatan-kekuatan menyulap hari ini untuk sebuah kemenangan ?

Kemenangan dari kerasnya perjuangan seorang ibu di suatu dusun di kota kecil berpenduduk tiga ribu orang. Suatu kemenangan dari benih-benih yang ditanam dari  rahim seorang batari, sembilan bulan lamanya.

Kemenangan ketika kedua  mata sahabatku terbuka dan diiringi tangisan-tangisan kecil seorang bayi mungil yang terlahir ke dunia dengan sentuhan-sentuhan sang  penyayang, belaian-belaian sang perindu kedamaian,  diselingi  tabuhan-tabuhan asmarandana jawa lewat bahasa kalbu seorang ibu.

Dua puluh dua tahun silam rekaman kehidupan itu selalu menari-menari di pelupuk mata sahabatku sebagai awal langkah kakinya dipijakkan di sebuah alam yang asing, alam kehidupan manusia bertahtakan lika-liku serta pusaran ombak yang siap menjegal di kelengahan.

Dan selama dua puluh dua tahun itulah sahabatku menuai kegetiran  hidup dengan dawai-dawainya dan terus mencari-cari sebuah harapan disebrang lautan, diketinggian gunung, di dasar lautan dan di ujung  sebuah keinginan.

Seorang anak dibukit Sinai yang mendendangkan syair-syair dengan suaranya yang parau, di teriknya mentari yang kerap membakar setiap tubuhnya, hingga hanya balutan-balutan tulang merah terlihat.

  Di kegersangan tanah yang  tandus itu sang anak melahirkan metamorfosa lewat penggalan-penggalan asa, lalu membawanya ke langit ke tujuh untuk di sampaikannya kepada sang penguasa.

                                                                      ***

Selama dua puluh dua tahun itulah sahabatku merangkai kehidupannya dengan  ukiran-ukiran permata dan menjadikannya mahkota di kerajaan batinnya.  Kemudian dengan segala kemampuannya, ia toreh dunia dengan jari jemarinya walau terkadang tetesan darah mengucur.

Darah seorang pemuda yang mendambakan kehidupan sang  batara di puncak kedamaian. Puncak dimana tak seorangpun mampu menjamahnya, kecuali dengan tangan-tangan dingin.

Suatu puncak dimana syetan-syetan tak lagi bisa menyusupkan bisikan-bisikan halusnya lewat pujian-pujian sang pengagum atau lewat  gemerincingnya genta di kuil tua raksaksa yang memanggil orang-orang suci  di dataran rendah padang panjang.

Atau lewat suguhan-suguhan sang bidadari-bidadari dengan kemolekan tubuhnya bak biola yang siap dipetik oleh kehausan  cinta sang arjuna.

Sebuah cita-cita hidup. Itulah puncak dari segalanya.

Dua puluh dua tahun usianya. Suatu bentangan waktu yang selalu setia menemani saat kepedihan melanda atau bersulang dengan kegembiraan.  Sampan dikayuhnya menyusuri relung-relung tajam tak berbatas.

Sebuah kedewasaan yang harus dipetik lalu dipersuntingnya.

Sebuah kemandirian yang harus di ambil lalu di milikinya.

Selamat ulang tahun sahabatku. Reguklah kehausan itu dengan air dari  mimpi-mimpimu. Kayuhlah sampan  kehidupan  sampai keujung lautan, sampai pulau harapan terbentang di depan mata.

Aku  dan doaku  adalah sahabatmu yang selalu menanti di ujung kesuksesan.

                                                                       ***

Pertemuan

D

i sudut sebuah Mall Metropolitan Bekasi, suatu hari di penghujung Juli 2003. Saat otot-otot menghentakkan tenaganya, mencucurkan keringat disertai bulir-bulir harap yang tersisa. Sebuah kehidupan.

Sang surya mengepakkan sayapnya, membakar setiap jengkal kulit-kulit legam tak berbalut. Tak terkecuali, pohon-pohon tertunduk lesu, daun-daun layu, berlindung diantara ranting-ranting kering menjuntai.

Sesaat angin berhembus, menebarkan sedikit kesejukan, meski tak menghilangkan kedahagaan saat kehausan menjamah tubuh.

Duduk gontai seorang ibu tua dengan wajah pucat pasi memendam kegetiran hidup mewarnai trotoar diantara berderetnya pohon-pohon taman. Tangannya menengadah dengan baju kumal tak bermerek, mengharap belas kasihan.

Sementara itu di dalam sebuah komplek pusat keramaian wajah-wajah berlalu lalang dengan rona-rona kebahagian terpancar  disela-sela bibir manisnya. Berbalut pakaian rapi, dengan aroma farfum menyelimuti tubuhnya. Pemandangan alam ini kontras di kota Metropolitan, kota tempat berjuta orang menggantungkan secercah harapan.

Seorang lelaki dengan wajah sendu duduk diteras depan mall.  Sepatu olahraga coklat dan jeans biru berpadu dengan kaos berlengan panjang terpajang di badannya.

Sesekali rokok dihisapnya, mengepulkan asap, melambung tinggi seperti kabut diterpa sang kelembutan. Matanya sayu  menyapu lalu lalang wajah-wajah, mencuri diantara belalaknya mata-mata. Nafasnya terangkat dalam, mengisi rongga-rongga dada yang mulai kering, menukik disertai gemerincing jiwa yang tak henti bertabuh mendendangkan sebuah syair lama.

Sang waktu berputar, menjemput detik memeluk menit, hingga detak-detaknya kian menyirna. Namun gemuruh hati sang pemuda 23 tahunan tak lekang juga. Tangan-tangannya memilin-milin rokok, lalu dihisapnya. Entah, sudah berapa batang kelur masuk dari mulutnya?.

Tak lama raut wajahnya berbinar diselingi sedikit senyuman, menyeka keraguan yang sedari tadi bermuara di ujung penantian. Sapaan akrab terlontar, ketika tangan-tangan  mulai menggenggam erat seperti kerinduan yang telah menghilang sekian lamanya. Menebarkan aroma keharuman  di taman-taman hati, menyejukkan kesegaran disudut-sudut jiwa. 

Aku dan engkaulah pertemuan ini telah Tuhan ciptakan dan Tuhan telah melantuntan lewat kidung-kidung waktu. Syair-syair-Nya telah memanggil kesucian hati dan menyatukannya. Rahmat Tuhan terlimpah laksana belaian kasih seorang ibu.   

Keakraban sepasang sahabat yang terpisah jarak, terpenggal masa berpadu dalam suatu kala di derunya perjuangan. Suatu untian hari yang berbuah bulan dipadu kegersangan,  melanda di awal fajar dan berakhir di suatu senja tanpa sedikitpun meraih impian-sebuah penantian!

Keelokan akan ciptaan Tuhan melahirkan rasa persahabatan diantara pelukan-pelukan permusuhan, bintik-bintik penguasa keabadian, menjerat setitik noktah yang tersisa - senasib sepenanggungan !

Hari kian redup menutup siang menjemput malam. Tak terasa lembayung menyirnakan cahya surya diufuk barat. Dewi malam bertengger berpagut kabut tipis, menebarkan kemilaunya, menembus cakrawala dan membentangkan sayap- sayapnya.

Malam ini telah menjadi saksi bisu pertemuan  dua sahabat yang terhalang oleh keinginan berbeda, terpisah harapan-harapan semu dan menuainya dengan tangan-tangan kekar dan menjadikannya sebuah istana di keluhuran jiwa. Sebuah impian-impian di lelapnya tidur, sebuah imajinasi di ambang kesadaran, diantara berjejalnya asa dan harapan seorang anak        manusia.

Hamparan lengkingan cerita-cerita kelam bermuara dihiruk pikuknya  kehidupan. Sabda-sabda alam tercucur diteriaknya halusinasi, jeritan-jeritan keinginan dan ambisi di relung kegetiran hidup. Sirna dan menyatu kembali dalam angan-angan - sebuah cita-cita hidup !

Begitupun dengan aku dan sahabatku yang menghabiskan waktu-waktu untuk bercanda, tertawa berbagi sedikit kisah klasik tempo dulu saat benang-benang mulai terangkai  dan benih-benih mulai  disemai.

Begitu temaramnya waktu, lalu berubah secercah harapan demi harapan menjelma menjadi sebuah kenyataan. Aku bersandar di ujung kemenangan sejati. 

Lalu aku dan sahabatku melangkah, menyusuri  sudut-sudut siang dan menjemput karya-karya manusia yang lahir dari tangan-tangan seni lewat kemegahan bangunan-bangunan yang menjulangkan kemewahan sampai keremangan malam dengan  sentuhan  neon-neon ratusan watt mulai membuka kehidupannya. Tak ada lagi hawa panas menyengat, kini hanya hempasan  angin malam  yang sesekali menyapu wajah-wajah kami berdua.

Kegembiraan  berpadu dalam hempasan masa dan bergulir dihari-hari,  saat fajar kembali terbit dan senja mulai memagut pertanda malam akan menjelang.

Sang Durga lalu  menutup diri sementara lembayung melingkarkan kilauan warna-warnanya dan kabut tipis berlari-lari di langit biru, bergumul dengan sang rembulan. Suatu pemandangan alam maha dahsyat tercipta berkat keagungan lingkaran kekuasaan-Nya.

Aku telah membawa sang pecinta kedalam sebagian hidupku dan memolesnya dengan puisi-puisi cinta seorang anak manusia yang merindukan sebuah persahabatan. Menghiasi hari-harinya  dengan penuh keceriaan walaupun hanya sekedar berlari dari bayang-bayang yang selalu menghalang.

Getar-getar rasa persaudaraan adalah sabda yang tak pernah berhenti dan selalu mengiringi setiap langkah menuju  sebuah tengat waktu, dimana  aku dan sahabatku kelak menemukannya.

Sebuah kebersamaan yang tak termakan oleh usia dan tak habis oleh merayapnya warsa, kecuali tangan-tangan  kekuasaan mencengkram dan menusuk kan jari-jari tajamnya lalu memisahkannya kepulau impian masing-masing.

Sementara itu sebagian lagi sahabatku terpisah oleh jalan hidup yang berbeda. Sebuah perjuangan di tanah rantau, demi mengais rupiah untuk dipersembah kan pada sang pemberi kasih.

Dimanapun engkau sahabatku, aku akan selalu memberikan kasih tulus dengan segenggam doa dan secarik ketulusan di dangkalnya hati, sepinya jiwa dan terus mengobatinya dengan kain-kain sutra yang kutoreh dari derasnya peluh dan onggokkan daging-daging.

Akan ku kayuh bahtera hidup dengan sisipan-sisipan petuah dan sokonganmu di masa lalu, sekarang dan beberapa abad kedepan. Aku kendalikan dunia dengan tangan-tanganku lalu ku persembahkan pada sang perupa. Inilah aku sahabat sejatimu.

Kemudian  akan ku kabarkan pada dunia, akulah penikmat dunia yang telah menemukkan cinta sejati seorang sahabat.

                                                                                                     ***

Segores Kenangan

S

etahun lalu di sebuah kota kecil di Jawa Tengah telah lahir sebuah dongeng anak manusia yang bergelut dengan catatan-catatan. Bercumbu dengan alam pengetahuan dibalik bertumpuknya tugas-tugas yang diemban, dengan dorongan dari sang pelahir.

Namun, kekuatan dongeng yang telah basi ditelan waktu masih membekas dan menjadi sebuah kenangan dikala angan melayang menerobos potret-potret rupa. Sebuah lintasan gambar nyata di dasar sanubari terekam laksana alam yang menghadirkan keelokannya. Menyajikan butiran-butiran permata di padang hijau  membentang.

Gundukan peristiwa mematut diri telah menghadirkan kisah-kisah mesra sepasang mata-mata yang mengintai, mencuri dibalik keluhuran budi. Itulah kenangan manis kala kaki menghentak di tanah subur Purwokerto.

Akhir lagu sebuah kenangan selama 3,5 tahun menimba ilmu di bangku kuliah. Anak yang kelaparan belaian-belaian sang penyejuk, pencercah jiwa di kegersangan padang tandus yang terus  mengobati dengan guyuran-guyuran air,  merangkul masa depan dipenghujung jalan dan menariknya sampai dipelukkan sang penyanjung.

Akulah sang makhluk yang selalu kehausan dengan bimbingan-bimbingan sang pengasih.

Akulah sang mahluk  yang selalu kelaparan dengan pemberian-pemberian sang penolong.

Akulah manusia yang selalu mendambakan kebahagiaan dari sang pemberi rahmat.

Akulah manusia yang selalu memimpikan nyanyian-nyanyian cinta dari sang penyayang.

Akulah manusia yang selalu merekam kenangan-kenangan suram dalam ingatan dan selalu terpatri ketika hari esok menyapa dan lusa menjelang. Seperti hutan belukar yang selalu menampakkan sang penguasa buas yang siap mencengkram dengan gigi-gigi  taringnya atau hanya sekedar menakut-nakuti dengan kumis panjangnya.

Aku seolah tergopoh pada sehelai ilalang yang tak sanggup menahan, seuntai akar yang hanya bisa menyambung detak nadi. Sementara ragaku tersangkut di bibir jurang menganga yang siap menyantap dan menyeretnya ke dasar kegelapan, di kedalaman lembah tak bertuan.

Ketika harapan tak lagi berpihak, datanglah sapaan-sapaan kedamaian lewat selembar senyuman di sela jari-jari lentiknya menggabungkan kata-kata menjadi serangkaian kalimat bermakna. Suatu ungkapan keakraban terselip dibalik keramahan sang pengelana.

Cerita-cerita manis di sebuah rental computer awal Februari 2003 adalah saksi bisu sebuah kekuatan cinta seorang anak manusia yang selalu memeluknya dengan kehangatan-kehangatan tutur katanya. Di balik ketulusannya, laksana sang mentari yang selalu menerangi  saat fajar di ufuk timur lahir dan  seperti rembulan yang selalu memancarkan cahyanya dikala kegelapan mulai menjamah   bumi.

Sang pelantun tembang-tembang mulai membisikan aroma-aroma kenikmatan lewat sepenggal kisah-kisah hidup yang penuh dengan kelucuan sampai mimikku yang ketat kini lentur oleh tembang-tembangnya. Ada rasa kedamaian, ketenangan.

Suatu maha karya yang telah menjebol benteng-benteng keangkuhanku, keseriusanku dan membawanya ke alam yang sebelumnya tak pernah kaki menginjak, hanya sebuah bayangan yang selalu dikejar, lalu  mengilang.

Genggaman ketulusannya telah meleburkan sifat keegoisanku bak  gunung yang menjulang, bagai   batu karang di dasar lautan yang tak tersentuh.

Seperti guratan nasib Tuhan yang telah menghadirkan sang pelantun di kehampaan jiwa yang merana. 

Adalah tangan-tangan Tuhan yang telah  menjelmakan sang dewa  di saat kesepian mulai memagut.

Ada lantunan rasa melayang-layang membawanya dan mengukir kenangan di singgasana kerajaan maya. Suatu istana  megah di puncak angan-angan - sebuah kebebasan.

Sebuah lukisan  berkarya yang hidup lewat goresan-goresan pena sang perupa.

Merekalah  sang penolong yang telah  membuka -kan terali belenggu kehidupanku dari lilitan-lilitan keterpasungan - suatu penjara keabadian yang ku buat sendiri.

Merekalah sang pengagum kedamaian.

                                                               ***

Kenangan manis selalu  tergores dikala waktu luang menghadap. Saat-saat ketika kaki-kaki mulai melangkah dan menghantarkannya ke gerbangku, sebuah rumah kontrakan di jalan Rajawali - penuh kepalsuan.

Begitupun ketika kedua kakiku  menapakkannya di depan mereka. Ada sejumput  kebahagiaan terpatri di wajah-wajah mereka. Gelak tawa selalu hadir   ditengah-tengah tatapan-tatapan aneh.

Suatu keajaiban Tuhan yang telah  mengulurkan titah-titah sucinya diantara kebimbangan-kebimbangan akan arti hidup, sebuah keputusasaan seorang anak manusia. 

Menyatukan perbedaan dan mematrinya dalam belahan jiwa. Mereka adalah saudaraku yang hadir dalam waktu dan ruang yang tak terbatas.

Mereka adalah sang perupa yang mematut diriku lewat polesan-polesan warna kehidupan.

Mereka adalah sang pecinta sejati yang telah mengajari sebuah ketulusan.

Merekalah yang telah memelukku dengan dongeng-dongeng si fulan, cumbuan-cumbuan malam dan belaian-belaian sang penyayang.

Merekalah yang telah membukakan mataku dari lelapnya tidur dan mengantarkannya pada jendela dunia di balik suguhan-suguhan kenikmatan semu.

Merekalah yang telah meniupkan senandung lagu cinta hingga telingaku mampu mendengar bait-demi bait sebuah arti keindahan.

Merekalah yang telah menaburi luka-luka menganga  dengan sentuhan-sentuhan keikhlasan.

Namun rupanya syetan-syetan tak pernah mau bersahabat, dengan kasarnya telah merenggut kesenangan dan mencampakkannya dalam ruang tak berbatas.

Segulung ombak telah memusnahkan rumah yang baru di bangun dan harus memulainya kembali  dari batu yang disusun kemudian menempeli dengan bata-bata hingga tempat perlindungan pun kembali berdiri.

Hanya puing-puingnya yang tersisa dan terus ku genggam erat sampai  tangan tak mampu menulis dan badan tak mampu bergerak.   Hanya ocehan rasa yang bergema memenuhi ruang-ruang  waktu.

Inilah saat memilukan akhir dari sebuah persinggahan. Suatu masa tak bertepi, suatu zaman tak berakhir saat-saat dimana tatapan-tatapan sang pencuri hati perlahan pudar diterpa angin yang terus berhembus seiring detak jantung.

Ketakutan akan sebuah kalimat lengkaplah sudah menambah rangkaian cerita-cerita suram yang tertelan di penghujung kisah. 

Sebuah kata perpisahan yang selalu menusuk dan membelenggu kedamaian jiwa, memporak-porandakan kebahagian yang baru terajut.

Tuhan, begitu cepat pertemuan itu dan harus berakhir dengan sebuah kekecewaan.

Kenapa kau hadirkan mereka di dalam hidupku, sementara jurang-jurang kau buat untuk memisahkan kami ?

Dan haruskah aku menyulam hari-hariku dikesendirian tanpa kehadiran mereka disisiku.

Haruskah sebagian hidupku dalam sebuah pencarian yang tak pasti ?

Hanya seutas kenangan selama tiga  bulan yang masih membekas.

Kapankah sang pecinta hadir  dengan kidung-kidungnya?

            

                                                                                              ***

Sang Pengagum

A

Ku bersimpuh dihadapan sebuah keagungan yang turun dari kayangan. Dari lembutnya tangan-tangan sang dewa, menyentuh dan membisikkannya ke telinga-telinga manusia lalu mengikatnya dengan benang-benang suci, dibungkusnya dengan lembaran-lembaran sutra lalu di turunkan ke bumi dengan ribuan dayang-dayang mengawalnya. Suatu ciptaan maha karya.

Aku tertunduk ketika getaran-getaran rasa bergemuruh di dada dan menepis setiap kegoncangan. Ada setitik kedamaian saat getaran-getaran itu mengendalikannya, raga pun hanya bisa mengikuti segala perintah-perintahnya, sementara batin hanya bisa pasarah menyapanya. Suatu kekuatan teramat dahsyat.

Ketika goresan tangan mulai  menuai kata-kata, lalu merangkaikannya menjadi sebuah lagu kehidupan dari seorang pujangga yang tak pandai mencipta, dari  seorang penyair yang hanya bisa menuangkan imajinasinya lewat sepenggal kalimat tak berguna, lalu dicampakkannya di keranjang sampah.

Tapi ketika  sulaman bahasa diiringi jiwa kesucian yang lahir dari cahaya Tuhan, kemudian menjelmakannya lewat keindahan, akan menjadi sebuah puisi-puisi malam yang bisa membangunkan seseorang dari lelapnya tidur.

Ataupun menghidupkan kembali manusia yang sudah tak bernyawa dengan iringan-iringan sukma yang melambung menghantarkan ke puncak keabadian, suatu zaman  dimana kekerasan  sudah tidak ada lagi dan penderitaan sirna diterpa cahaya-cahaya putih.

                                                                           ***

Fajar menghamparkan jubahnya di pagi hari, meletakkannya  di atas hijaunya pucuk-pucuk cemara di suatu upacara panen padi.

Burung-burung manyar berlari-lari di pematang sawah, hinggap dan terbang di butir-butir kuning dewi sri yang tertunduk malu – memberikan ajaran tersirat. Petani pun dengan ketam ditangannya mulai menuai butir demi butir, kemudian memilihnya dengan ketekunan, ia  lupa menguak  tabir rahasia sang pemberi kehidupan.

Sementara itu bocah-bocah kecil menari-nari dan berjingkrak di lumpur basah, sesekali gelak tawanya keluar sambil kakinya tak henti-henti berkubang. Betapa asyiknya mereka  sampai lembayung menjemput  senja dan sang kegelapan  membentangkan kekuasaannya.

Ada secercah  harapan yang terbersit di rona-rona  wajah bocah  tak berdosa itu, sebuah kenikmatan hidup.

Begitupun dengan alam yang terus menunjukkan kekuasaannya. Gunung yang menampakkan diri: “akulah sang penguasa jagat raya”, yang sewaktu-waktu dapat memuntahkan lahar-lahar dan deburan asap, lalu menyantap manusia-manusia.

Dengan gagahnya, sang penguasa lautan berkata: “akulah sang pemilik segala-galanya”, ketika sang waktu mentitahkan, “aku akan tenggelamkan manusia dan seisinya” sampai tak berisisa.

Bumi hanya diam dan terpaku menatap karya-karya-Nya. Dengan keelokannya, ia hanya tersenyum dan berkata: ”kalian tidak ada apa-apanya, wahai gunung sang penguasa daratan dan air sang penguasa lautan. Jika aku berkehendak dengan sekali goncangan saja aku bisa menghancurkan segala-galanya, termasuk engkau di dalamnya”.

Itulah sketsa kehidupan yang selalu berputar pada lingkaran-lingkaran masa, tetapi tak sampai lingkaran-lingkaran itu bertemu untuk kedua kalinya, kecuali Tuhan menutup peredarannya. Semuanya hanya  bisu, tidak ada pemenang atau pun pecundang.

Inilah pujian-pujian yang selalu meluncur di kuil-kuil oleh sang biksu, di gereja-gereja oleh sang pendeta atau di mesjid-mesjid oleh sang kiayi kepada para pengikutnya.

Dengan ajaran-ajaran  Ketuhanan itu, utusan-utusan suci  membimbingnya untuk menjadi seorang pengagum.

Seorang penggembala di padang mahsyar yang tak pernah kehausan di saat kekeringan menyapa, dan tak pernah kepanasan sekalipun mentari menyengat.

Jiwa-jiwa yang mampu bertahan di saat goncangan badai menerpa atau sekalipun bumi menutup dirinya.

Jiwa seorang hamba suci yang kenal setiap tetes darahnya, kenal setiap pori tubuhnya dan kenal  setiap desah nafasnya sampai ia mengenal dirinya sendiri.

Jiwa yang selalu bermandikan kedamaian dengan geraian-geraian optimisme-bukan pesimisme, jiwa yang tidak pernah menyatu  dengan rahasia-rahasianya-bongkahan kenistaan, ataupun jiwa yang selalu menurut kata hati.

Di manakah engkau wahai jiwa-jiwa suci. Turunkan ke bumi dan menyatulah dengan diriku. Jadilah engkau pramesuri dalam singgasanaku, agar aku bisa  berpelukan dengan alam yang  memajangkan keindahannya, agar aku bisa menikmati hari yang tak pernah berhenti.

Mendekatlah wahai roh-roh, menyatulah dengan sebongkah darah di kedalaman dada agar aku bisa menjadi sang pengagum.

                                                                            ***

Segenggam Harapan

      

K

u torehkan lembaran-lembaran putih dengan tinta-tinta suciku, walau  terkadang tinta-tinta itu berubah warna di tengah perjalanan, berceceran tak jelas.

Lalu ku susun lembar demi lembar menjadi sebuah buku harian. Buku yang mengisahkan perjalananku, semenjak aku dibuaian sang ibu, sampai  di pelukan  sang bumi - sebuah kematian.

Buku ke abadian yang tak kenal hilang atau  lupa untuk menuliskannya.  Buku sejati yang tak pernah ada kata bohong tertera. Buku alam yang Tuhan telah ciptakan agar aku dapat mempertanggungjawabkan di hadapan sang Khaliq.

Buku yang memaparkan seluruh siang dan malam yang aku jalani.

Buku-buku yang aku tuliskan dengan cucuran keringat dan dengan kekuatan-kekuatan tanganku itu telah  menghantarkanku ke suatu masa yang aku sendiri tak menyadarinya.

Buku itu telah membawaku sampai seperempat abad alamnya.

Aku baru sadar, ketika alam menegur diriku lewat firman-firman-Nya. Aku tersentak, ketika kalam-kalam suci mulai bergema memenuhi alam pikiranku.

***

Malam terus merayap memeluk kegelapan. Awan berpedar melewati celah-celah rembulan, lalu bergumul di temaramnya sang cakrawala. Suatu kesenyapan  dipenghujung peradaban. Lolongan anjing malam sesekali terdengar, memecah kesepian diantara mata-mata yang menutup, dinina bobokan bunga tidur.

Ketika itu, kegelapan membuka mataku lewat panggilan-panggilan suci kemudian membangunkannya dari kehangatan pelukan sang perayu. Hanya dengan kepekaan indrawi aku dapat melepaskan lilitan-lilitannya, sampai mata hatiku benar-benar terbuka.

Sebuah cermin di hadapanku. Wajah dan tubuhku terpampang disana, persis seperti aku sebenarnya. Aku lupa,   di sanalah tempat mematut diri dengan sapuan-sapuan jari-jari manisku. Tempat dimana Tuhan telah memoleskan wajah rupawan dan keelokannya pada diri seorang musafir.

Perlahan wajah di cermin itu menunjukkan perubahannya. Ada raut-raut penyesalan yang terlintas selama seperempat abad lamanya ketika tangan-tangan itu menuliskan sang waktu dengan gerakan-gerakannya, ketika melukiskan potret perjalanan  dengan gibasan-gibasan kakinya yang tak pernah berhenti - seorang anak manusia.

Detik kemudian cermin itu kembali berubah, menampakkan wajah-wajah yang air matanya menetes dibalik kedua mata sendunya, tatapannya mulai kabur dengan bayang-bayang di kesuraman, lalu menghilang sampai pada titik nadir tak berbekas. Yang tinggal hanya sebuah kenangan masa silam.

Raut-raut pilu kembali tampak di cermin itu, memendam berjuta rasa   yang kerap bergelayut di ujung sebuah harapan, di tepian lautan ambisi yang tak pernah tergapai, atau belum, kecuali takdir menghadirkan di hadapannya sebuah keajabian, lalu membimbingnya  ke mahligai kesukesan.

Tak seperti gambaran nyata yang di tampilkan di hadapan manusia-manusia, terlihat begitu menusuk mata orang yang memandangnya. Menaburkan decak kagum sampai lantunan-lantunan pujian mengiringinya. Sementara yang tampak di cermin itu adalah wajah bisu yang tak dapat lagi berkata atau sekedar menepis argumen.

Wajah seorang manusia yang telah melangkahkan kaki seperempat abad lamanya di panggung luas di tataran tanah jawa dengan lakon-lakon sang dwi rupa kehidupan.

Lakon yang tak pernah usai di alam pewayangan dari gemulainya sang dalang. Namun, lakon itu tak pernah berpihak pada sang pengelana yang selalu dicambuki oleh kegetiran hidup, kesengsaraan tanpa sedikitpun merauk setanggi anggur kenikmatan.

Hanya sebuah kenestapaan berlayar, menyambut dan kemudian melepasnya.

Tiba-tiba cermin itu menunjukkan riak-riak bayangan yang sedari tadi kabur, kembali berkumpul dalam satu titik - sebuah harapan   untuk menyambung hidup beberapa saat sampai sang penjegal kembali menampakkan rupanya.

“Tuhan inilah aku seorang pengelana di padang pasir yang hanya sekerat daging aku mampu berjalan dan hanya setitik peluh ini aku bisa hidup untuk selamanya di dalam sebuah panggung yang kau ciptakan. Kemudian aku bermain seperti apa yang kau perintahkan. Aku tak mampu bergeming meski jutaan keinginan selalu datang silih berganti”.

“Akulah si dungu yang tak pernah mendengar sabda-sabda keagungan-Mu dan selalu menutup mata dari firman-firman yang tersirat dalam  maha karya-Mu, sampai aku terjatuh ke lembah Rinai, seperempat abad lamanya”.

“Tuhan,  dengan jendela waktumu, seperempat abad  dan seperempat abad ke depan aku selalu menunggu datangnya syair-syair kedamaian dan senandung kidung ketenangan, agar aku bisa berkarya menuai hasil dari kerja kerasku memanggul dunia dan menggendong alam”.

Itulah wajah-wajah yang tak pernah bisa berbohong mencurahkan isi hatinya di depan sebuah cermin yang masih tetap berdiri, seperempat abad lamanya.

Segenggam harapan  di usia seperempat abad lamanya untuk menghadirkan mimpi-mimpi dalam tidur malamnya atau hanya sekedar melepas lautan angan-angan, jutaaan harapan di kegersangan jiwa yang selalu terpuruk  di kehampaan hati yang selalu terpatri.

“Wahai sang pejuang, jangan pernah kau teteskan air mata di bumi ini, hingga semuanya tenggelam. Dan jangan kau tumpahkan darah, hingga semuanya tak bernyawa. Setitik cahaya masih bisa kau raih.  Di ujung sana kerajaan nyata menantimu, mengharapkanmu menjadi Sultan-nya. Bidadari-bidadari cantik siap menjadi  selir-selir  yang setia menyertaimu sampai kau tidur terlelap dan membangunkannya  dengan sapaaan-sapaan kehalusan tatkala fajar menjelang”.

“Jalanmu masih panjang Nak, peluklah dunia dan jangan pernah kau tinggalkan sebelum kereta malam menjemputmu. Hiasilah buku-bukumu dengan potret-potret senyummu-bukan tangisan-tangisanmu yang bisa meruntuhkan dunia. Isilah bukumu dengan tinta-tinta kemurnian - sebuah kejujuran. Percayalah, dunia akan memihakmu dan tak pernah mencelakakanmu”.

“Bukalah mata hatimu, tataplah hari esok. Fajar di ufuk timur kembali membuka tabir-tabirnya dan mengundangmu untuk berpesta pora merayakan kemenanganmu”.

Demikianlah sang malaikat menyampaikan pesan-pesan sucinya, sesaat menjelang cermin yang  mengisahkan  rupa kelam di kegelapan itu retak. Lalu percikan-percikannya kembali menyatu menjadi utuh – sebuah cermin yang menampilkan raut-raut keceriaan.

Terpampang di sana sosok seorang pemuda gagah, tatapannya tajam - menyiratkan  keoptimisan. Dan wajah-wajah yang mewarnai cermin itu penuh dengan kedamaian - jauh dari keserakahan.

Sebuah sosok yang sama terlihat dalam cermin itu menggengam sebuah harapan untuk kehidupan di seperempat abad ke depan - sebuah cita-cita hidup.

                                                                ***

Di Taman Surga

D

i  taman hatiku bunga-bunga mulai  bermekaran menyibakan aroma khasnya memenuhi kelambu-kelambu putih tergerai di atas sebuah pembaringan. Daun-daun hijau ranau menempel pada  ranting-ranting kecil menjulang.  Di balik pelupuk jendela kecil fajar menyeringai dengan kehangatan sinarnya. Sepasang merpati putih terlihat bertengger  di dahan akasia. Tubuhnya berdekatan, sayap-sayapnya sesekali digibaskan lalu berpelukkan di antara sendi-sendinya.

Wajah alam ketika itu mulai bersahabat, tidak lagi menunjukkan kekejamannya.  Apakah itu pertanda baik menyambut kedatangan sang pecinta. Ataukah hanya sebuah ilusi di keremangan malam sebuah mimpi-mimpi.

Fijar keceriaan menghamparkan jubah kekuasaannya, meletakkannya di atas pohon-pohon kehidupan lalu menghembuskannya di singgasana pengantin.

Gemercik air terjun di balik bukit berdendang dengan tari-tarian sang pecipta di sela-sela bebatuan licin tertata alam laksana sepasang anak manusia menyanyikan lagu kebahagiaan. Kemudian timbullah   riak-riak di tengah samudra dengan bulir-bulir gulungannya.

Alam semesta mulai membelaiku dengan hempasan angin di puncak gunung sampai rambutku tergerai. Lalu kuncup-kuncup bunga kembali merekah mengundang sang kumbang mendekat untuk menghirup sari madunya.

Kekasihku, kemarilah. Ulurkan tanganmu, genggam jemariku lalu dekatkan di kedalaman hatimu.  Hamparan samudra biru tak mampu mengobati kehausanku. Sengatan mentari sudah tak mampu lagi menyalakan lentera-lentera kecil di taman hatiku. Aku berada di tengah gurun tandus yang tak ada celah untuk berteduh dari sengatan mentari. Tanaman-tanaman kecil mati dan pohon-pohon binasa. Musim kering telah melanda dan mengancamku.

Hanya engkaulah sang dewi kayangan yang mampu meniupkan  roh-roh di singgasana kerajaanku yang telah aku bangun dari gundukkan ayat-ayat sang pecipta, dari cucuran keringat dan dari gelayutan puisi-puisi malam.

Kekasihku, mendekatlah !. Mari kita duduk di balai-balai kecil  di taman hatiku sambil menikmati buah dari kelentikan sang pelukis yang telah menuangkan imajinasinya dengan pulasan-pulasan warna-warna kasih sayang.

Kekasihku, marilah kita menyulam benang-benang hari dan menjadikannya sebuah kain yang akan membungkus kehangatan kita, menyatukan dua insan dalam hempasan gelora.

Kekasihku, berilah setengguk anggur pelepas dahaga yang sanggup mengobati kehausan jiwaku sampai berabad-abad lamanya.

Hanya dengan tatapan matamu, wahai kekasihku, mampu menghidupkan lentera-lentera kecil di jiwaku. Kemudian akan  menerangi jalan-jalan terjal  di lorong kesunyian.

Dengan sebuah senyumanmulah  kematianku akan berakhir dan kehidupan keabadian akan menjelang. Aku terbangkit dari kubur alam lalu melayang laksana kapas-kapas tertiup angin menjemput kekasih hatiku di taman surga.

Kekasihku, marilah kita kelilingi dunia, memasuki kebun-kebun,  hutan-hutan dan bentangan lautan, lalu singgah sebentar di pematang sawah  karena musim panen segera tiba dan sang waktu telah mengeram butir-butir padi.

Mari kita petik butir-butir padi, seperti jiwa-jiwa yang mulai bermekaran dari benih-benih cinta yang telah di tanam di jiwa kita. Penuhilah gudang-gudang dengan  buah-buahan, laksana kehidupan yang telah memanjakkan kita. Mari kita lukis ranjang-ranjang kita dengan wewangian dan atapnya dari gaun-gaun, lalu kita rebahkan kepala kita di atas bantal-bantal yang terbuat dari helai-helai wol yang di datangkan dari Persia.

Sejenak kita regangkan otot setelah  kita menjemput jarak dengan tatapan-tatapan ketakjubkan, seperti Tuhan yang telah menghadirkan sang pecinta di gerbang kebahagiaan.

Kekasihku, mari kita tuai lagi anggur-anggur di kebun  dan menyimpannya ke dalam guci-guci lalu menutupnya rapat-rapat, seperti hati kita yang telah terisi oleh percikan-percikan cinta yang di datangkan dari taman surga, jangan sampai tutup tutup itu ada celah yang tersisa dan isinya berhamburan.

Simpanlah guci itu dan jadikan sebagai teman di saat kesendirian hadir, jadikan sebagai dewa di kala kesusahan menjemput. Peluklah wahai bidadariku dan jangan tangan-tangan mungilmu lemas, karena badai akan mempeorak-porandakan guci  dan merebut segala isi di dalamnya.

Maukah kita menyusunnya kembali dari sisa-sisa tenaga yang telah terkuras, atau kita akan terus memulasaranya seperti kita yang memelihara roh-roh kita, jiwa-jiwa kita dan hati kita.

***

Bidadariku,  ciumlah aku karena malam mulai menjemput, lalu nyalakan pelita-pelita agar istana tidak lagi temaram. Pandanglah mataku sebelum kau tidur, di balik tatapanku itulah akan tersirat gambaran seorang pencari cinta. Senyumlah, sebelum  mata lelah mu menariknya dan kemudian menutup di atas pembaringan.                

Wahai kekasihku, engkaulah keabadian yang telah menjelma di sanubariku dan telah menggetarkan tembok-tembok keangkuhan akan sebuah cinta. Lalu membangunnya kembali dengan cahaya-cahaya yang terpancar dari wangi tubuhmu. Dari hentakan desah napasmu ketika tatapan demi tatapan bertemu, sebagaimana lilin yang telah dinyalakan sang pecipta.

Marilah kita kayuh hari-hari dengan pesona-pesona keelokanmu, lalu menyegarkan setangkai bunga yang layu, membasuh setiap jengkal kegersangan sampai tanah subur kembali bisa di tanami dengan benih-benih ketulusan.

Kehadiranmu dalam alam khayalku akan menjelmakan di alam nyataku, sehingga mampu membawa diriku jatuh ke dalam pelukan sebuah kemegahan sampai akhirnya sang malaikat tak mampu mengusik ketenangan kita di taman keabadian - taman surga.

Kekasih hatiku, kita bangun sebuah istana kecil di lubuk hati dengan pernak-pernik di sudut-sudut dinding dan aku sebagai rajanya sementara engkau disampingku menjadi permasuri yang diapit dayang-dayang.

Kemudian, kursiyang diikat dengan  tali-tali kasih kita duduki bersama sampai  puisi-puisi dari bibir pesinden meluncur, membawa kita ke alam kesejukan, sebagaimana jiwa yang telah kau siram.

Kita rengkuh dunia, hingga tak seorangpun berkutik. Kita genggam dunia dan kita wartakan  bahwa kitalah sang penguasa yang sedang di landa asmara.

Bidadariku mendekatlah, Kunci lah jendela dan pintu-pintu karena sang pengusik segera datang dan akan membentangkan amarahnya. Mereka iri dengan kebahagiaan yang kita raih, mereka benci dengan kesenangan yang kita peroleh.

Kekasihku, belahan jiwaku janganlah kau lepaskan genggamannya. Ikatlah terus sampai aku kembali menjemputmu dan akan membawamu kembali ke kerajaan hatiku untuk menikmati kembali nyanyian-nyanyian sang pujangga dan bunga-bunga  melati yang mekar di taman.

Janganlah kau pergi kekasihku, waktu belum menutup diri, bersenang-senanglah denganku aku ingin hidup bersamamu seribu tahun lagi.

Namun sang fajar telah datang, mengusik ketenangan.

Temuilah aku di taman impian, taman surga yang memberikan kedamaian.

.

                                                                         ***

Kota Metropolitan

Suara alunan musik kecrek terdengar di lajunya sebuah bus padat penumpang di jalanan tak lengang.  Kemudian nyanyian-nyanyian menyayat meluncur dari mulut kering bocah kecil berpakaian kucel beselendangkan seutas tali di kantong kresek hitamnya.

Pemandangan itu kian lengkap ketika di kolong-kolong jembatan ibu tua menggendong bayinya yang baru berusia lima bulanan. Bayi mungil berselimutkan sehelai kain lusuh itu terus menangis meminta segelas susu. Namun, ibu tua itu hanya bisa menghela nafas dari tenggorokannya yang gersang dan hanya bisa meneteskan air mata yang telah kering.

“Nak, tenanglah. Jangan kau kabarkan tangisan-mu itu ke langit-langit atau tingginya tembok-tembok, karena hanya akan memotong sisa hidupmu saja. Ibu hanya bisa memberikan sebuah harapan sehari saja, selanjutnya kamulah yang akan menyambungnya atau kau akan mati terkapar di telan arus bah di hilir sana kemudian  akan menyeretmu selama-lamanya”.

Suara wanita tua hitam dengan rambut gimbalnya itu terdengar syahdu menyanyikan  lagu-lagu yang mengusik rasa iba. Sebuah syair yang ditemukan dari kerasnya kehidupan, dari tangan-tangan yang selalu terbuka di pinggir-pinggir jalan, dari kaki-kaki yang tak beralas.

Sementara itu di sudut sebuah jalan berdiri bapak tua dengan tongkat di pegangnya. Janggutnya putih menghiasi kulit rentanya. Pak tua itu lalu menampahkan tangannya dengan sejuta harapan-recehan yang menyangkut di telapak tangannya yang kotor - untuk mengambung hidup hari ini.

Pak tua itu berdiri mematung sejak fajar terbit, lalu mentari menyalakan api panasnya  sampai malam membentangkan gelapnya. Terkadang hujan adalah minuman kenikmatan yang sesekali diteguknnya, sengatan mentari menjadikannya sebagai selimut dan dinginnya malam menjadi bantal-bantalnya.

Selama bertahun-tahun ia mengabdikan dirinya pada lalu lalangnya jalanan, hilir mudiknya manusia dan sapaan-sapaan sang dermawan. Hari-harinya menuai harapan yang tak pasti.

Pak Tua itu hidup sebatang kara. Rumahnya adalah emperan-emperan toko, atau ketika rumahnya sesak oleh saudara-saudaranya,  sesekali ia singgah di bawah jembatan. Plesirannya adalah  menyusuri jalan-jalan yang selalu di ulang sampai beberapa kali, tak kenal lelah.

Sebuah sosok pejuang kehidupan yang demi sebungkus nasi rela berhujan-hujanan, demi seteguk air rela berpanas-panasan. Lalu inikah takdir Tuhan yang telah mengantarkannya, atau hanya karena ulah tangan-tangan jahil ?

                                                                        ***

Sambil mengamati kota dari kejauhan, berdiri tegak  gedung-gedung pencakar langit dan rumah mewah,  menunjukkan keperkasaannya. Segelintir orang bermandikan gemerlapnya kemewahan dengan menikmati sajian-sajian surgawi di atas jutaan orang yang terkapar.

Menari-nari di diskotik atau menghabiskan uangnya di café-cafe yang sekali santap saja puluhan atau bahkan ratusan ribu ke luar dari balik sakunya. Demi perutkah atau demi sebuah harga diri yang selalu mereka  bangga-banggakan.

Potret suram sebuah kota di pusat peradaban modern yang bergelimangan dengan tangan-tangan serakah, tangan-tangan yang siap menjegal dan melibas di kala kelengahan menyapa.

Sebuah kota yang tidak kenal  rasa kemanusiaan, dipenuhi dengan kemaksiatan, keserakahan dan kemungkaran.

Sebuah kota yang selalu menepis ajaran-ajaran Tuhan tentang sebuah cinta  dan menggantikannya dengan ajaran-ajaran materialistis tentang sebuah kekejaman.

Aku terhenyak pilu dengan sorotan mata menyusuri setiap ruang di kota padat penduduk ini, sambil sesekali batinku menangis menyaksikan manusia-manusia yang memakan saudaranya sendiri dengan kekekaran ototnya, lalu mencampakkannya seperti bangkai tak berguna.

Mayat-mayat bergelimpangan di pinggir-pinggir jalan, menanti sang pengasih menguburkannya. Sementara itu tulang  belulang berserakan di kolong-kolong jembatan menanti sang penolong membenamkan-nya.

Lalu kenapa aku terus berjalan di hiruk pikuknya orang-orang dan kenapa pula orang terus mengikuti setiap jengkal tapak kakiku ?

Sebuah ambisikah atau  hanya sekedar mengikuti arus. Hanya jalan hidupkulah yang akan menjawabnya.

                                                                             ***